Apa Solusi untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Indonesia di Masa Mendatang ?

“Jika pembangunan pangan kami dapat dikatakan mencapai keberhasilan, maka hal itu merupakan kerja raksasa dari suatu bangsa secara keseluruhan,” kata Soeharto seperti dikutip dari buku Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto (2006) karya Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage (hlm. 92).

Apa itu Ketahanan Pangan ?

Pengertian ketahanan pangan, tidak lepas dari UU No. 18/2012 tentang Pangan. Disebutkan dalam UU tersebut bahwa Ketahanan Pangan adalah “kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

Bagaimana Kondisi Ketahanan Pangan Indonesia ?

Indonesia merupakan negara dengan ketahanan pangan yang masih rendah di antara total 113 negara. Itu di karenakan perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap sektor pertanian dinilai masih rendah. Meskipun begitu, Indonesia sudah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) memandang ketahanan pangan bukan hanya sebatas soal ketersediaan, tetapi soal kualitas dan keterjangkauan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa A. Amanta mengatakan berdasarkan penilaian Global Food Security Index (Indeks Ketahanan Pangan Global) 2018 dari The Economist Intelligence Unit, Indonesia berada di posisi 65 dari 113 negara. Jika diselidiki lebih dalam pada tiap indikator, Indonesia berada di posisi 58 untuk indikator ketersediaan, namun berada di posisi 63 untuk indikator keterjangkauan. 

Lalu, bagaimana solusi yang tepat untuk meingkatkan Ketahanan Pangan Nasional ?

  • Dikarenakan masih rentan nya ketahanan pangan di Indonesia, masyarakat diminta untuk beralih mengkonsumsi ke komoditas pangan yang lain seperti jagung, sagu, atau hanjeli.

Anggota DPR Herman Khaeron menyatakan ketahanan pangan, khususnya komoditi beras berpotensi rentan pada masa mendatang. Ia pun meminta masyarakat untuk beralih  dari konsumsi nasi ke komoditas pangan lain seperti jagung, sagu, atau hanjeli.

Herman mengatakan, konsumsi beras di Indonesia mencapai 124 kilogram per kapita per tahun. Sementara, jumlah penduduk Indonesia hingga 2018 mencapai 265 juta.

Adapun total bersih konsumsi beras dalam negeri bekisar 33 juta ton per tahun. Sedangkan, jumlah bersih produksi beras domestik mencapai 35 juta ton per tahun. “Jadi surplus beras hanya 2 juta ton per tahun. Ini tidak aman,” ujar dia
Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 1 juga dijelaskan bahwa kemandirian pangan merupakan kemampuan negara dalam memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan hingga tingkat perseorangan. Ini artinya, lanjut Herman, pangan menjadi hak asasi manusia yang harus dipenuhi oleh bangsa dan negara.

Di sisi lain, bila dilihat dari kondisi lahan, ia mengatakan sulit saat ini mencari lahan yang cocok untuk ditanami padi. Tidak hanya itu, lahan pertanian produktif juga mulai hilang seiring pembangunan infrastruktur.

Dia pun menyebut lahan pertanian produktif yang hilang mencapai 100-120 ribu hektare per tahun. “Jadi kalau sudah 10 tahun, (lahan pertanian) hilang 1 juta hingga 1,2 juta hektare,” ujarnya.

Kepala Bidang Ketersediaan Pangan Kementerian Pertanian Rachmi Widiriani mengatakan, peningkatan konsumsi beras terjadi seiring bertambahnya jumlah penduduk. Peningkatan konsumsi, perpotensi meningkatkan harga jaul beras.  “Seiring dengan hal tersebut, harga beras juga meningkat,” ujar dia. Selain itu, bertambah kelompok usia produktif dan ekonomi menengah ke atas,  juga akan meningkatkan permintaan pangan, terutama produk hewani dan sayuran.

Oleh karena itu, ia meminta adanya diversifikasi pangan. Hal ini dilakukan dengan mengalihkan makanan utama dari nasi menjadi komoditas lainnya. Makanan pokok dapat diganti menjadi ubi hingga produk serealia lainnya.

  • Perluasan Lahan Pertanian

Ketersediaan pangan dalam negri sangat bergantung pada produksi para petani. Ketahanan pangan yang baik sangat menentukan sumber daya manusia suatu bangsa. Hal itu diungkapkan Dewan Pendiri dan Ekonom Senior INDEF Bustanul Arifin dalam acara Dialog Selasa yang diadakan di Kantor DPP Partai NasDem di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pertimbangan DPP NasDem, Siswono Yudo Husodo juga mengatakan pemerintah perlu mempertimbangkan upaya perluasan lahan pertanian sebagai salah satu solusi strategis guna mencapai ketahanan pangan nasional. Menyempitnya lahan pertanian menjadi salah satu penyebab turunnya produksi bahan pangan.

Siswono melanjutkan, ratio luas lahan pertanian pangan dengan jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah. Saat ini Indonesia hanya memiliki 358,5 m2/kapita lahan sawah aktif. Ditambah dengan lahan pertanian kering, jumlah total lahan pertanian Indonesia hanya mencapai 451,1 m2/kapita. Berbanding jauh dengan salah satu negara ekportir beras terbesar yaitu Thailand dengan ratio luas lahan pangan pertanian sebesar 5.225,9 m2/kapita.

Siswono melanjutkan, idealnya Indonesia saat ini memerulkan perluasan lahan pertanian sebesar 200.000 hektare tiap tahunnya untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan dalam negri. Sedangkan untuk mencapai negara eksportir pangan Indonesia butuh memperluas lahan pertanian sebesar 300.000 hektare per tahun.

https://katadata.co.id/berita/2019/10/21/ketahanan-pangan-rentan-masyarakat-diminta-beralih-konsumsi-jagung https://mediaindonesia.com/read/detail/162503-perluasan-lahan-pertanian-solusi-capai-ketahanan-pangan-nasional https://tirto.id/seberapa-kuat-ketahanan-pangan-indonesia-dhNr https://news.trubus.id/baca/33165/peneliti-nilai-ketahanan-pangan-indonesia-rendah-meski-pertumbuhan-ekonomi-naik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *